RANTAU KELOYANG PELEPAT
DUSUN MUDE RT2 RANTAU KELOYANG PELPAT MUARA BUNGO JAMBI INDONESIA
Jumaat, 3 Februari 2012
Selasa, 21 Jun 2011
Khamis, 14 April 2011
Selasa, 29 Mac 2011
Ahad, 6 Mac 2011
MASALAH FIDYAH SHOLAT MENURUT PANDANGAN ISLAM
Ada Guru ( konon kabarnya dosen sebuah perguruan tinggi ) dengan nada sinis sambil mengejek mengatakan “Fidyah shalat merupakan taktik guru agama agar mendapatkan rizqi disaat ada kemalangan” Na’uzu billahi min zalik, mungkin beliauini terbaca pemikiran Seikh As-Sayyid As-Sabiq yang menyatakan :
أجمع العلماء على أن من مات وعليه فوائت من الصلاة فان وليه لا يصلى عنه ولا غيره
Artinya : Para Ulama sudah ijma’ (Konsensus) terhadap yang wapat yang masih ada shalatnya yang tinggal, walinya (kerabatnya) maupun orang lain tidak boleh mengqodhonya.
Pendapat ini tidak benar minimal belum dapat kita terima, sebab ulama ibnu basyar menuqilkan pendapat Imam Syafi’i Rahimahullah ( Qoul qodim) begini :
انه يلزم الولي ان خلف تركة أن تصلي عليه
Artinya : Sesungguhnya wajib bagi siwali mengqodho shalat orang yang meninggal, andainya dia meninggalkan warisan.
Demikian juga boleh mengqodho sholat orang yang meninggal menurut pendapat Imam Syibromalisi, Al-Ibadi, Ishaq, Atha, Ibnu Asyirin , Ibnu Daqiqi Al-Id dan Tajuddin As-Syubky.
Memang diakui, Pendapat yang masyhur dalam Mazhab Syafi’I ” Orang yang meninggal yang masih ada qodhoan shalatnya tidak ada perintah atau suruhan untuk mengqodho atau membayar Fidyah sholat orang tersebut”. Namun perlu kita ketahui banyak ulama berpendapat sangat baik membuatkan Fidyah sholat orang yang meninggal tersebut, diantaranya Imam Al-Qolyuby, Imam Nawawi, Imam Al-bughowy, Imam Ar-Rofi’I dan Imam Algoffal menjelaskan begini :
انه يطعم عن كل صلاة مدا
Artinya : Memberi makan satu mud (675 gr) dari setiap sholat wajib yang ditinggalkan.
Pemikiran beliau-beliau ini dikiaskan atau dianalogikan mereka kepada masalah shoum (puasa) yang nashnya begini :
من مات وعليه صيام صام عنه وليه (متفق عليه)
من مات وعليه صيام شهر فليطعم عنه مكان كل يوم مسكينا (رواه ابن ماجه)
Pendapat-pendapat Ulama Syafi’iyah ini sejalan dengan ijtihad Imam Abu Hanifah Rohimahulloh dan menurut As-Syafi’iyah setiap satu sholat wajib Fidyahnya satu mud (675 gr). Sehari semalam 5 x shalat wajib, sedangkan 1 tahun = 360 hari x 5 waktu =1800 x sholat wajib.1 tabung beras (4 kg) = 6 mud.
Bila orang meninggal berusia 45 tahun umpamanya, maka 45 tahun dikurang umur sebelum dewasa 15 tahun = 30 tahun dikurangi lagi ketaatan 15 tahun misalnya, tinggal yang perlu dibayar Fidyahnya 15 tahun lagi.
Kalau beras yang dipersiapkan untuk Fidyah ada 20 tabung, maka cara pelaksanaannya sebagai berikut :
15 tahun x 360 hari x 5 waktu = 27000 waktu.
20 tabung itu = 120 waktu. 27000 waktu : 120 mud = 225 kali.
Selanjutnya faqir A mensedekahkan kepada faqir B 113 kali dan faqir B mensedekahkan kepada Faqir A sebanyak 112 kali jumlahnya = 225 kali.
Dengan demikian selesailah Fidyah orang tersebut.
Imam Abu Hanifah hanya membolehkan dibayar Fidyah sholat orang yang meninggal dengan syarat :
a. Ada wasiat untuk dibuat Fidyah dari orang yang wafat itu
b. Makanan pokok, juga boleh dengan uang seharga 1/2 sha’ (1,9 kg).
c. Sehari semalam dihitung 6 kali sholat wajib dengan witir.
d. Tidak boleh sedekah berputar ( faqir A mensedekahkan kepada faqir B dan faqir B kembali mensedekahkan kepada faqir A dan seterusnya.
Kesimpulannya Imam Abu Hanifah Rahimahulloh tidak membolehkan membayar Fidyah orang yang meninggal tanpa ada wasiat dari orang yang meninggal tersebut.
ADAB ZIARAH KUBUR
Ziarah kubur disunatkan berdasarkan hadist :
فانها تذكر الآخرة
Hendaklah orang yang berziarah kubur itu melaksanakan sebagai berikut :
1. Berniat ziarah karna Allah semata-semata
2. Ingin memberi manfaat kepada mait yang diziarahi dengan membaca Al-Quran Al- Karim
3. Suci badan dan pakaian agar do’anya mudah berterima
4. Tidak memijak kuburan
5. Setelah mendekati kuburan mengucapkan do’a secara umum yaitu :
السلام عليكم دار قوم مؤمنين وانا ان شاء الله بكم لا حقون, نسأل الله لنا ولكم العافية, اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم واغفر لنا ولهم
Kemudian melangkah kekuburan menuju kuburan yang akan diziarahi dengan posisi membelakangi Qiblat dan menghadap kuburan yang dimaksud, setelah berjarak satu atau dua meter mengucapkan salam secara khusus yaitu :
السلام عليك يا والدي
السلام عليك يا والدتي
Lalu peziarah duduk menghadap kubur yang diziarahi dalam arti membelakangi Qiblat sambil membaca berikut :
1. Surah Al Fatihah
2. Ayat Kursi ( Faedahnya Allah akan menerangi kubur itu dengan 40 nur)
3. Surah Yasin ( Faedahnya Allah meringankan Azab bagi orang yang diziarahi)
4. Surah Al Ikhlash 11 kali
5. Surah Al Palaq 1 kali
6. Surah An Nas 1 kali
7. Membaca do’a :
اللهم رب هذه الأجساد البالية والعظام النخرة التي خرجت من الدنيا وهي بك مؤمنة ادخل عليها روحا منك وسلاما مني
Faedah do’a ini Allah akan memberikan pahala kepadanya sebanyak orang yang beriman semenjak Nabi Adam sampai hari qiyamat.
Sesudah membaca ayat-ayat dan do’a diatas sebaiknya mengubah posisi dengan menghadap Qiblat dan kuburan di hadapan orang peziarah dan seterusnya berdo’a.
Waktu yang disunatkan ziarah menurut Imam Al Qurthuby ialah :
1. Ashar hari kamis
2. Jum’at satu hari penuh
3. Sabtu pagi hari
Hukum Transaksi Jual Beli secara kredit
Salah satu kegiatan bisnis yang terjadi di zaman modern ini adalah jual beli barang secara kredit dengan harga yang labih tinggi dari pada biasanya. Prakteknya adakalanya si tukang kredit memasang dua harga, jika beli secara kredit harganya sekian dan kalau tunai harganya sekian.Tetapi adakalanya memang si tukang kredit hanya menjual barang secara kredit saja. Tentu harga jual barang secara kredit lebih mahal dari pada jual kontan. Bagaimana status hukum dari transaksi seperti ini?Para ulama merumuskan kaidah tentang hukum transaksi (mu’amalah) bahwa pada prinsipnya hukum bertransaksi adalah boleh (mubah) kecuali kalau di dalamnya terdapat unsur penipuan (gharar), sepekulasi (maysir), riba dan barangnya dijual dua kali.Ada istilah yang umum yakni transaksi “dijual dua” yakni menjual suatu barang kepada dua orang atau lebih, atau mentransaksikan suatu barang dengan harga kredit dan harga tunai tetapi si pembeli langsung membawanya tanpa menjelaskan apakah membeli dengan secara tunai atau dengan secara kredit. Nah, untuk transaksi model kredit ini, para ulama berbeda pendapat: (1) Jumhur ahli fiqih, seperti mazhab Hanafi, Syafi’i, Zaid bin Ali dan Muayyid Billahi berpendapat, bahwa jual-beli yang pembayarannya ditangguhkan dan ada penambahan harga untuk pihak penjual karena penangguhan tersebut adalah sah. Menurut mereka penangguhan itu adalah harga. Mereka melihat kepada dalil umum yang membolehkan.(2).Jumhur ulama menetapkan, bahwa seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, karena pada asalnya boleh dan nash yang mengharamkannya tidak ada. Sebaliknya kalau sampai kepada batas kezaliman hukumnya berubah menjadi haram.(3). Pendapat lainnya mengatakan bahwa upaya menaikkan harga di atas yang sebenamya lantaran kredit (penangguhan pembayaran) lebih dekat kepada riba nasiah (tambahan harga karena limit waktu) yang jelas dilarang oleh nash Al-Qur’anul Karim. Jadi, menurut hemat saya, transaksi jual beli secara kredit hukumnya sah dan halal asalkan akad (transaksinya) antara penjual dan pembeli dilakukan secara jelas (aqd sharih). Artinya, antara penjual dan pembeli sama-sama mengetahui dan terdapat kesepakatan harga barang dan batas waktu pada saat akad.Transaksi jual beli secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dibanding membeli secara kontan hukumnya sah dan halal. Dengan syarat, transaksi antara penjual dan pembeli dilakukan dengan aqd sharih ’adam al jahalah (dilakukan secara jujur dan mensepakati batas waktu dan harga barang).Jangan sampai akad sudah selesai dan barang sudah di bawa pulang sementara antara penjual dan pembeli belum ada kesepakatan, apakah membeli secara tunai atau kontan. Sehingga si pembeli memutuskan sendiri dalam akadnya setelah beberapa waktu dari waktu transaksi. Ketidakjelasan seperti ini hukumnya haram karena akadnya tidak jelas (sharih).
PERIHAL KEMATIAN DAN KENDURI ARWAH
Abu Al-‘Ijji Al-Dimasqiyi menyebutkan dalam Syarh Al-Aqidah Al-Thahawiyah, menurut ahli Sunnah wa Al-Jama‘ah, puasa, sembahyang atau sedekah untuk dijadikan pahalanya kepada orang lain sama ada yang telah mati dan yang hidup adalah harus. Pahala tersebut juga sampai kepada mereka. Begitu juga pendapat ulama Syafi‘eyah bahawa doa yang dihadiahkan kepada orang mati dan orang hidup akan sampai kepada mereka sama ada kepada keluarga yang dekat atau jauh, dengan wasiat atau sebaliknya. Perkara ini dijelaskan oleh hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Syarh Al-Aqidah At-Thahawiyah: 664 / Hukm Al-Syari‘ah Al-Islamiyah Fi Ma’tam Lailah Al-Arba‘in: 19 & 37) Allah Subahanahu wa Ta‘ala juga menjelaskan di dalam Al-Qur‘an bahawa doa orang yang hidup kepada orang yang telah mati itu memberi manfaat kepada si mati. Dalam hal ini Allah Subahanahu wa Ta‘ala memerintahkan supaya beristiqfar (memohonkan keampunan) untuk para sahabat, tabi‘en, orang-orang alim, termasuk keluarga, sanak saudara, rakan dan taulan dan orang-orang Islam yang lain yang telah meninggalkan kita terlebih awal termasuk sebagaimana Allah berfirman:
Tafsirnya: “Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: “Wahai Tuhan kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah dalam hati kami perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.
(Surah Al-Hasry: 10)
Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan para sahabat memohon keampunan bagi Raja Najasyi yang telah meninggal. Begitu juga Baginda memerintahkan umat Islam memohon keampunan bagi si mati ketika dikuburkan,sebagaimana sabda Baginda:
Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kami bahawa Najasyi, Raja Habsyah meninggal pada hari itu, lalu Baginda bersabda: “Pohonkanlah keampunan bagi saudara kamu”. (Hadis riwayat Al-Bukhari)
Dalam riwayat yang lain, Osman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu berkata:
Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila selesai menguburkan mayat, Baginda berdiri di atasnya seraya bersabda: “pohonkanlah keampunan bagi saudara kamu, pohonkanlah baginya ketetapan menjawab kerana ketika ini dia sedang disoal”
(Hadis riwayat Abu Daud)
Begitu juga dengan bersedekah, pahala sedekah tersebut akan memberi manfaat kepada si mati jika diniatkan sedemikian, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam apabila ditanya: “Adakah sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang yang meninggal apabila disedekahkan sesuatu untuknya? Hal ini diceritakan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Maksudnya: “Sesungguhnya Sa‘ad bin Ubadah saudara Bani Sa‘edah, pada masa kematian ibunya, dia tidak berada di sisinya, lalu beliau datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu ku telah meninggal sedang aku tidak berada di sisinya, oleh kerana itu adakah sesuatu boleh memberi manfaat kepadanya jika aku sesuatu itu untuknya?” Baginda bersabda: “Ya”, Sa‘ad berkata: “Maka sesungguhnya aku bersaksi kepada engkau bahawa kebunku yang berbuah itu adalah sedekah untuk ibuku”
(Hadis riwayat Al-Bukhari)
Dalam hadis yang lain juga ada menyatakan:
Maksudnya: “Sesungguhnya seorang lelaki telah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya ibuku telah meninggal secara tiba-tiba dan aku menyangka apabila dia (dapat) berkata-kata maka pasti dia akan bersedekah, apakah aku (dapat) bersedekah untuknya?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya”.
Maksudnya: “Sesungguhnya seorang lelaki telah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya ibuku telah meninggal secara tiba-tiba dan aku menyangka apabila dia (dapat) berkata-kata maka pasti dia akan bersedekah, apakah aku (dapat) bersedekah untuknya?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya”.
(Hadis riwayat Al-Bukhari)
Berdasarkan ayat Al-Qur‘an dan hadis-hadis di atas, amal kebajikan yang dilakukan sama ada amalan mengadakan kenduri arwah atau bersedekah, memberikan wang kepada orang yang menyembahyangkan mayat, membaca Al-Qur‘an hingga khatam, berdoa dan sebagainya dengan niat pahalanya untuk si mati lebih diyakini bahawa pahalanya akan sampai kepada si mati.
Memberi Wang Kerana Menyembahyangkan Mayat
Kadang-kadang menguruskan mayat itu menggunakan perbelanjaan yang banyak keranakeluarga si mati akan memberi wang kepada orang-orang yang menyembahyangkan mayat. Berhubung dengan perbelanjaan ini jika orang yang memberi itu bukan ahli waris seperti kaum kerabat yang terdiri daripada zawilarham, anak menantu atau sahabat-sahabat si mati dan harta yang diberikan itu pula bukan daripada harta si mati, maka adalah harus diberikan kepada orang-orang yang menyembahyangkan mayat, membaca Al-Qur‘an dan tahlil dengan maksud pahalanya untuk si mati.
Jika yang memberi wang itu terdiri daripada ahli waris dan wang yang diberikan itu pula ialah harta atau wang pusaka (warisan), maka hendaklah terlebih dahulu mendapat persetujuan daripada semua ahli waris yang berkenaan. Sekiranya hal ini terjadi, perlu juga diingat bahawa hendaklah penggunaan wang atau harta pusaka itu tidak menjejaskan perkara-perkara wajib bagi si mati seperti menunaikan wasiat, zakat, hutang dan lain-lain.
Maka dalam hal ini sama ada pemberian berupa wang atau seumpamanya kepada orang yang menyembahyangkan, pembaca-pembaca Al-Qur‘an, atau kepada jemputan yang hadir yang turut mendoakan si mati, pemberian wang tersebut boleh sahaja diterima sebagai sedekah kerana si mati, bukannya upah sembahyang. Si penerima juga boleh membuat pilihan sama ada menerima sedekah tersebut atau menerimanya kemudian menyedekahkannya semula kepada keluarga si mati. Ini yang elok, kiranya keluarga si mati itu lebih memerlukannya atau sangat berhajat kepada wang berkenaan.
Di sini perlu diperjelaskan bahawa pemberian sedekah seperti wang kepada orang-orang yang menyembahyangkan mayat, membaca Al-Qur‘an, tahlil dan kepada jemputan yang hadir tidaklah termasuk perkara yang dituntut di dalam penyelenggaraan mayat dan ia bukanlah suatu perkara yang wajib atau sunat yang disyari‘atkan oleh agama.
Maka sewajarnya perbuatan pemberian sedekah seperti itu hendaklah mengambil kira tidak memberatkan atau membebankan kepada keluarga atau ahli waris si mati. Firman Allah Subahanahu wa Ta‘ala:
Tafsirnya: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya”.
(Surah Al-Baqarah: 286)
Hal ini juga sesuai dengan ajaran dan pimpinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
Maksudnya: “Kami berada di sisi Umar lalu beliau berkata: “Kami dilarang daripada sebarang perbuatan yang memberatkan”.
(Hadis riwayat Al-Bukhari)
Saat kedatangan ajal maut itu mustahak sentiasa dalam ingatan supaya setiap orang akan siap sedia dengan amalan yang membawanya ke syurga. Kenduri arwah atau seumpamanya selepas kematian seseorang itu hanyalah satu usaha daripada orang-orang yang hidup. Namun usahanya sendiri di samping rahmat Allah penentu kepada nasib sebenarnya.
السلام عليكم ورحمة الله وبركته.
الحمد لله الذى جعل القواعد الشرعية دليلا ومنهاجا. فلا بد لنا الا باتباعها واتقانها.
والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وأصحابه الذين بذلوا نفوسهم وأموالهم لاعلأ كلمة الله هى العليا.
بسم الله الرحمن الرحيم
Ingin saya membawa sedikit maklumat berkenaan dua perkara yang masih jadi perbahasan dan kemuskillan sesetengah Muslimin khususnya ditanah air. Walaupun ianya tidaklah menjadi agenda penting dalam setiap forum , tapi setiap kali dibangkitkan , akan menjadi perbahasan hangat sebab melibatkan sensitivity masyarakat.
(1) Sampai pahala bacaan dan amalan orang yang hidup kepada yang sudah meninggal.
(2) Kenduri Arwah.
Telah maklum Kenduri Arwah atau dipanggil juga Kenduri Tahlil, Baca Qul Hu, dan berbagai istilah yang di gunakan masyarakat yang menunjukkan makna yang satu. Majlis kenduri bermaksud :diadakan perhimpunan dan tentunya disertakan jamuan makan. Maka Kenduri Arwah atau istilah-istilah yang semakna dengannya , bermaksud majlis tersebut dibuat sebagai amalan sedekah daripada yang hidup ,serta pahalanya didoa’kan kepada yang telah meninggal dunia lantaran disebabkan “Tarahhum” (timbul rasa kasihan belas) daripada yang hidup kepada yang mati. Bentuk sedekah yang dibuat, samada ianya Bacaan Alquran biasanya bacaan Surah Yaasin, Awal dan Akhir Surah Al Baqarah , Surah Al Ikhlas , Tahlil La ilaha illallah , Selawat dan disudahi dengan Doa’. Doa’ pula semestinya di tujukan dan dimaksudkan kepada Arwah, dengan disebut sejumlah doa’ yang bermaksud tujuan amalan tersebut yang telah dibuat sebentar tadi adalah di tujukan (di sedekahkan/dihadiahkan) pahalanya kepada arwah . Maksudnya, samada amalan bersedekah makanan berbentuk jamuan atau amalan badaniah berbentuk bacaan dan doa’, kedua-dua bentuk amalan tersebut dibuat khusus yang dikaitkan dengan mayyit adalah diistilahkan dengan kenduri arwah disisi masyarakat Nusantara. Perlu juga diingatkan kebiasaannya bukanlah yang dimaksudkan dengan kenduri arwah semata-mata mengadakan jamuan makan-makan sahaja atau bacaan sahaja tanpa jamuan. Sekalipun sekali-sekala berlaku juga keadaanya begitu. Ini perlu difahami kerana mereka yang membantah amalan kenduri arwah ini telah terkeliru dalam hujjah mereka dengan semata-mata berdalilkan dalil-dalil larangan mengadakan jamuan dipihak ahli mayyit sebagai larangan yang menyeluruh terhadap sebarang bentuk majlis yang berkaitan dengan mayyit. Insyallah nanti akan kita bahaskan semua dalil-dalil yang dikemukakan oleh pembantah amalan ini dan jawapannya, Insyallah Ta’ala.
Sejarah awal timbulnya amalan ini dalam bentuk yang tersusun rapi begitu , tidaklah dapat dipastikan dengan tepat bila tarikhnya bermula.Yang pasti , ianya memang amalan yang sudah diwarisi zaman berzaman. Bukan sahaja masyarakat Islam Melayu saja yang mewarisinya ,terdapat juga masyarakat Islam lain diluar negara khususnya di Negara-negara Arab terdapat juag dikalangan mereka yang juga mengamalkannya secara tradisi. Jika semua dalil-dalil yang dijumpai dalam perbahasan ini betul dan benar , maka ada kemungkinan amalan ini secara khusus atau amnya telah berlaku semenjak zaman Salaf- Soleh lagi. Kerana semua dalil-dalil Syariat telah wujud semenjak sebelum wujudnya Zaman Salaf- Soleh. Atau kemungkinan juga masih belum wujud secara tersusun sebegitu lantaran tiada warid yang menjadi Nas secara sorih , tetapi keberadaannya didalam makna Dalil-dalil yang am yang menjadi dasar \ asal yang kuat yang menjadi peganggan seluruh masyarakat Islam khususnya masyarakat Melayu Nusantara sebagai satu amalan yang tidak boleh dipandang ringan jikalau terdapat segelintir orang yang cuba membid’ahkannya,mengharamkan atau menghukum sebagai sesat.
Saya tidaklah bermaksud membahaskan history acara ini, cuma ingin menjelaskannya disudut pandangan hukum syariat berlandaskan Formula atau Kaedah syariat. Samada menurut dasar-dasar Mazhab 4 atau lain. Perlunya kepada penjelasan terhadap masalah ini sangatlah terang, terutama semenjak diakhir-akhir ini terdapat golongan yg berusaha sedaya upaya secara disedari atau tidak , telah menggunakan kemudahan-kemudahan IT, elektronik serta bahan bercetak penyebar maklumat untuk membatalkan Mazhab , dan segenap sesuatu yg dibangsakan kepada ulamak adalah sebagai tidak sah untuk dijadikan peganggan amalan. Mereka berusaha mengelirukan orang ramai dengan menghalakan hujjah pembatalan Mazhab dengan menggunakan kitab-kitab dan bahan rujukan daripada Mazhab sendiri. Seolah-olahnya nyatalah selama ini Orang –orang telah terpedaya oleh perbuatan para Guru dan Kiyai khususnya daripada Pondok dengan dakwaan sesuatu amalan yang dikatakan dari Mazhab Syafie misalnya , padahalnya bukan. Oleh yang demikian , terpedayalah selama hari ini orang ramai oleh dakwaan Tuan Guru-tuan guru dan Kiyai-kiyai?.
Taktik kotor dan mengelirukan ini biasanya telah digunakan oleh golongan Syiah apabila berhadapan dengan pengikut Ahli Sunnah . Tetapi nampaknya hari ini, ianya telah diciplak pula oleh GAM (gulungan Anti Mazhab). Hairan juga kita memikirkan golongan yg kontra ini. Mereka berusaha giat membatalkan amalan orang lain dengan berbagai usaha dan helah. Mencari-cari jalan yg boleh digunakan , untuk menaburkan keraguan pada dasar-dasar Mazhab. Sekalipun pada sisi mereka tidak menzahirkan kenyataan diperbahasan , tetapi itulah dasar perjuangan mereka. Bagi mereka tiada mazhab melainkan Quran dan Hadis. Padahal Quran dan Hadis tak ada pula pernah diTa’rifkan oleh sesiapa pun sebagai MAZHAB. Tak pernah dijumpai dalam buku atau fatwa ulamak yang menta’rifkan Mazhab sebagai Quran dan Hadis. Tapi itulah kenyataannya penta’rifan mereka. Seketika mereka menggunakan Quran sebagai hujjah. Dikala yang lain Hadis pula . Kadangkala Hadis Maudhu pun dipakai juga dalam masalah Akidah. Mereka beria-ia membatalkan Fatwa-fatwa ulamak Mazhab yg berdasarkan kelemahan yang hanya disatu sudut sahaja , mungkin terdapatnya Hadis-hadis Dhoif disisi sebahagian ulamak tapi tidak pula disisi yg lain. Ataupun dhaif disudut sanad tapi telah diterima ummat sebagai amalan , maka sah dijadikan sebagai hujjah. Oleh kerana KEDANGKALAN DAN TIADA LATIHAN YANG SEMPURNA UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN-KEPUTUSAN SYARIAT , jadilah mereka hantu-hantu yg merayau-rayau yg mencaci-caci Mazhab. Itulah hal keadaan mereka. Yang sangat-sangat melucukan mutaakhir ini dan sangat mendukacitakan apabila mereka cuba mengelirukan orang awam , dengan putar belit mereka menggunakan Kitab-kitab ulamak Mazhab yg menjadi rujukan utama dalam Mazhab. Menggunakan nama Imam Syafie dan sebahagian besar daripada Ulamak muktabar Islam sebagai bahan bukti yg diunjukkan kepada orang awam bahawa PEMUKA MAZHAB sendiri pun tidak berkata atau pernah berfatwa sebagaimana yg diamalkana selama ini?. Mereka bercogankan “Penilaian semula terhadap Fatwa-fatwa ulamak” yang nampak bunyi nya cogan /motto mereka seperti mantap dan kemas, tetapi setelah diselidiki nyata sebaliknya. Adakah benar semua dakwaan mereka?. Marilah kita membahas dan mengkajinya dengan fikiran yang terbuka.
PERADUAN MELALUI SMS FATWA MUFTI BRUEI DARUSSALAM
1) Penganjur mengadakan permainan kuiz yang dibukakan kepada para peserta melalui penghantaran sistem pesanan ringkas atau SMS. Sesiapa yang banyak menghantar atau mula-mula sekali meneka jawapan itu dengan tepat akan mendapat hadiah yang dijanjikan oleh pihak penganjur.
Permainan yang berbentuk kuiz melalui SMS ini amat berleluasa dan sambutan yang diberikan juga tidak kurang hebatnya. Banyak peserta yang membelanjakan sejumlah wang mereka untuk membayar caj penghantaran SMS dengan tujuan untuk memperolehi kemenangan.
Permainan ini dikategorikan judi kerana terdapat unsur-unsur perjudian yang terkandung di dalamnya, iaitu:
i. Pertaruhan daripada wang peserta yang dijadikan sumber
hadiah bagi bakal pemenang.
ii. Pihak yang menang dalam peraduan kuiz ini mendapat
untung daripada wang peserta-peserta lain, sedangkan
pihak yang kalah akan mendapat kerugian kerana perlu
membayar caj SMS yang digunakannya.
iii. Kemenangan berpihak kepada peserta adalah melalui
nasib kerana pemilihan untuk menang adalah dari sudutsudut
tertentu seperti siapa yang terbanyak, terpantas dan
sebagainya.
Melalui permainan ini, pihak penganjur mengumpul sejumlah
besar wang daripada para peserta dengan berbagai cara,
antaranya;
- Mengenakan caj perkhidmatan penghantaran SMS lebih
tinggi daripada kadar biasa;
- Mengenakan bayaran bagi setiap SMS yang dikirim oleh
penganjur kepada peserta;
- Mengenakan bayaran pendaftaran untuk memasuki peraduan
melalui kredit peserta dan sebagainya.
Bayaran daripada peserta inilah yang sebahagiannya dijadikan hadiah yang ditawarkan atau dijanjikan penganjur kepada peserta yang bakal memenangi peraduan tersebut dan sebahagiannya menjadi keuntungan bagi penganjur.
Perlu diingat, sekalipun penghantaran SMS bagi permainan ini dikenakan dengan kadar caj biasa, namun sekiranya bayaran caj tersebut dimasukkan dalam nilai hadiah maka ia tetap dianggap perjudian.
2) Sebuah kumpulan ingin mengadakan satu perlawanan di mana setiap peserta diarahkan untuk menyediakan wang masing-masing dengan kadar tertentu. Di akhir permainan sesiapa yang menang akan memperolehi semua wang hasil kutipan daripada semua peserta tadi atau mendapat hadiah yang dibeli menggunakan wang kutipan tersebut.
Maka perkara seumpama ini dianggap sebagai judi kerana terdapat unsur-unsur judi iaitu adanya pertaruhan dan hanya seorang sahaja atau sebahagian pihak sahaja mendapat keuntungan hasil pertaruhan, manakala yang sebahagian pula tidak mendapat apa-apa.
Walau bagaimanapun jika salah seorang daripada peserta menyediakan ganjaran untuk perlawanan tersebut, maka tidak ada unsur perjudian dalam pertandingan tersebut. Misalnya peserta yang menyediakan hadiah tersebut berkata: “Jika engkau mengalahkanku, maka bagimu ganjaran ini” atau “jika aku mengalahkanmu, engkau tidak perlu memberiku ganjaran apapun.”
Jika wang yang dikutip dari semua peserta bertujuan untuk kegunaan perlawanan tersebut seperti membeli minuman untuk para peserta, membayar pengadil atau hakim perlawanan dan yang seumpamanya selama mana ia tidak membabitkan ganjaran kepada peserta yang menjadi pemenang perlawanan, maka tidaklah ia dianggap judi.
Begitulah antara contoh perkara-perkara yang berunsurkan judi. Walaupun perlaksanaannya berbeza dengan perlaksanaan judi yang dilakukan di tempat-tempat perjudian dan tidaklah mengundang kepada perkelahian, akan tetapi ia merupakan salah satu cara untuk mendapatkan harta orang lain secara tidak sah. Cara seperti ini diharamkan oleh syarak.
Permainan yang berbentuk kuiz melalui SMS ini amat berleluasa dan sambutan yang diberikan juga tidak kurang hebatnya. Banyak peserta yang membelanjakan sejumlah wang mereka untuk membayar caj penghantaran SMS dengan tujuan untuk memperolehi kemenangan.
Permainan ini dikategorikan judi kerana terdapat unsur-unsur perjudian yang terkandung di dalamnya, iaitu:
i. Pertaruhan daripada wang peserta yang dijadikan sumber
hadiah bagi bakal pemenang.
ii. Pihak yang menang dalam peraduan kuiz ini mendapat
untung daripada wang peserta-peserta lain, sedangkan
pihak yang kalah akan mendapat kerugian kerana perlu
membayar caj SMS yang digunakannya.
iii. Kemenangan berpihak kepada peserta adalah melalui
nasib kerana pemilihan untuk menang adalah dari sudutsudut
tertentu seperti siapa yang terbanyak, terpantas dan
sebagainya.
Melalui permainan ini, pihak penganjur mengumpul sejumlah
besar wang daripada para peserta dengan berbagai cara,
antaranya;
- Mengenakan caj perkhidmatan penghantaran SMS lebih
tinggi daripada kadar biasa;
- Mengenakan bayaran bagi setiap SMS yang dikirim oleh
penganjur kepada peserta;
- Mengenakan bayaran pendaftaran untuk memasuki peraduan
melalui kredit peserta dan sebagainya.
Bayaran daripada peserta inilah yang sebahagiannya dijadikan hadiah yang ditawarkan atau dijanjikan penganjur kepada peserta yang bakal memenangi peraduan tersebut dan sebahagiannya menjadi keuntungan bagi penganjur.
Perlu diingat, sekalipun penghantaran SMS bagi permainan ini dikenakan dengan kadar caj biasa, namun sekiranya bayaran caj tersebut dimasukkan dalam nilai hadiah maka ia tetap dianggap perjudian.
2) Sebuah kumpulan ingin mengadakan satu perlawanan di mana setiap peserta diarahkan untuk menyediakan wang masing-masing dengan kadar tertentu. Di akhir permainan sesiapa yang menang akan memperolehi semua wang hasil kutipan daripada semua peserta tadi atau mendapat hadiah yang dibeli menggunakan wang kutipan tersebut.
Maka perkara seumpama ini dianggap sebagai judi kerana terdapat unsur-unsur judi iaitu adanya pertaruhan dan hanya seorang sahaja atau sebahagian pihak sahaja mendapat keuntungan hasil pertaruhan, manakala yang sebahagian pula tidak mendapat apa-apa.
Walau bagaimanapun jika salah seorang daripada peserta menyediakan ganjaran untuk perlawanan tersebut, maka tidak ada unsur perjudian dalam pertandingan tersebut. Misalnya peserta yang menyediakan hadiah tersebut berkata: “Jika engkau mengalahkanku, maka bagimu ganjaran ini” atau “jika aku mengalahkanmu, engkau tidak perlu memberiku ganjaran apapun.”
Jika wang yang dikutip dari semua peserta bertujuan untuk kegunaan perlawanan tersebut seperti membeli minuman untuk para peserta, membayar pengadil atau hakim perlawanan dan yang seumpamanya selama mana ia tidak membabitkan ganjaran kepada peserta yang menjadi pemenang perlawanan, maka tidaklah ia dianggap judi.
Begitulah antara contoh perkara-perkara yang berunsurkan judi. Walaupun perlaksanaannya berbeza dengan perlaksanaan judi yang dilakukan di tempat-tempat perjudian dan tidaklah mengundang kepada perkelahian, akan tetapi ia merupakan salah satu cara untuk mendapatkan harta orang lain secara tidak sah. Cara seperti ini diharamkan oleh syarak.
Isnin, 19 Julai 2010
AKTIVITI BULAN JULAI & OGOS 2010 SABK BIDOR
USTAZ 2 SABK DAERAH BATANG PADANG BIDOR
USTAZAH2 SABK BIDOR
MAJLIS KHATAM QURAN SEMPENA NUZULUL QURAN PADA 26-08-2010




SEDANG MENGAGIH2KAN BUBUR LAMBUK
WAH2 SEDANG TOLAK APATUCERAMAH ISRAK & MIKRAJ DI SURAU ANNUR
SABK BTG PADANG BIDOR
PENYAMPAIAN ZAKAT DARIPADA JABATAN AGAMA ISLAM
PERAK (JAIP) KEPADA PELAJAR2 SABK BIDOR
PELAJAR2 SEDANG MENDENGAR CERAMAH
ISRAK DAN MIKRAJ
PELAJAR SEDANG MEMERHATIKAN PENGETUA SEDANG
MELANCARKAN ANTI ROKOK DAN DADAH

Rabu, 30 Jun 2010
Langgan:
Catatan (Atom)


























